Jumatan tanggal 24 Agustus 2007 di Masjid Golden cukup memberikan kesan.
Idrus yang berceramah memberikan suatu poin yang cukup mengena di hati. Dalam ceramahnya beliau menekankan pentingnya memiliki sikap mental keinginan untuk mencari kebenaran.
Mencari kebenaran ini dalam konteks luas dan terutama dalam mencari kebenaran dalam mengisi kehidupan di dunia ini.
Sebagai orang Islam, cukup jelas sumber hukum Islam merupakan panduan kebenaran. Sumber2 tersebut adalah Al-Quran, hadits dan Ijtihad ulama. Sampai pada poin ini memang hati ini belum tersentuh. Hati tersentuh ketika dijelaskan bahwa seringkali kita sebelum mencari kebenaran dari sumber2 hukum tersebut, tanpa disadari kita sudah menentukan kebenaran. Kebenaran yang dikendalikan oleh nafsu dan keinginan duniawi. Akibatnya, proses pencarian kebenaran itu sendiri menjadi bias. Kita jadi cenderung mencari pembenaran atas "kebenaran" yang telah kita tentukan sendiri. Akibatnya banyak yang mengutip ayat, hadits ataupun mengikuti ulama yang mendukung pendapat kita.
Jika itu memang yang terjadi sekarang, agama hanya menjadi pembenaran tindakan yang kita lakukan. Agama tidak lagi menjadi sumber kebenaran..
Setelah direnungkan, mungkin itu pula kiranya salah satu sebab yang menyebabkan semakin banyak orang yang memilih untuk tidak beragama. Tentunya bagi umat Islam, saya percaya bahwa hidayah Allah tidak turun kepada semua orang dan merupakan kewajiban bagi manusia untuk mencari kebenaran yang hakiki. Tetapi banyak pula yang berargumen, tindakan manusia2 yang beragama tidak lebih baik dari mereka. Bahkan banyak yang lebih buruk. Bagi saya sendiri, ini merupakan tantangan untuk bisa mencari kebenaran yang hakiki. Semoga Allah menunjukkan jalannya. AMIIIN.
Sunday, August 26, 2007
Sunday, August 19, 2007
DUIT LAGI
Hari ini baca berita di detik.com yang isinya tentang peredaran narkoba berupa heroin yang dijalankan dari dalam LP Nusakambangan. GILAAAAA
Dari dulu denger Nusakambangan kesannya ngeri. Terbayang penjara dengan sistem security yang maksimal. Tapi, masih bisa tuh menjalankan bisnis haram dari sana.
Kebetulan pas pulang kemaren liat wawancara langsung di salah satu stasiun TV swasta. Intinya menyoroti peredaran narkoba di penjara. Yang mengagetkan, dalam salah satu segmen dilakukan wawanncara via telp dengan salah satu napi yang masih ada di Cipinang. Napi tersebut menggunakan cellphone!!!Terkaget2 lah. Dia bilang disana udah biasa. Pinter2 aja lobby aparat setempat. Ngerti aja lah kan aparat butuh duit juga sementara gajinya kecil, gitu katanya. Dia bilang disana pebisnis haram bisa jalanin bisnis, yang preman2 paling minta komisi.
Ternyata tetap aja bung, ASAL YOU PUNYA DUIT di Indo semua bisa diatur.
Dari dulu denger Nusakambangan kesannya ngeri. Terbayang penjara dengan sistem security yang maksimal. Tapi, masih bisa tuh menjalankan bisnis haram dari sana.
Kebetulan pas pulang kemaren liat wawancara langsung di salah satu stasiun TV swasta. Intinya menyoroti peredaran narkoba di penjara. Yang mengagetkan, dalam salah satu segmen dilakukan wawanncara via telp dengan salah satu napi yang masih ada di Cipinang. Napi tersebut menggunakan cellphone!!!Terkaget2 lah. Dia bilang disana udah biasa. Pinter2 aja lobby aparat setempat. Ngerti aja lah kan aparat butuh duit juga sementara gajinya kecil, gitu katanya. Dia bilang disana pebisnis haram bisa jalanin bisnis, yang preman2 paling minta komisi.
Ternyata tetap aja bung, ASAL YOU PUNYA DUIT di Indo semua bisa diatur.
Friday, August 17, 2007
MERDEKAAAA!!!!
62 tahun sudah kita merdeka. Kemerdekaan merupakan hak dasar dari setiap manusia. Sebagai bangsa, sepantasnya lah kemerdekaan bangsa ini kita syukuri dan rayakan.
Tapi apa yang terjadi sekarang??Beberapa tahun terakhir selalu muncul pesimisme yang mempertanyakan apakah kita sebagai bangsa ini sudah benar2 merdeka???Bahkan untuk tahun ini, beberapa media dan mailing list ramai mendiskusikan mengenai rendahnya tingkat antusiasme rakyat Indonesia dalam menyambut hari kemerdekaan RI.
Mungkin karena makna dan manfaat dari kemerdekaan ini belum sepenuhnya dirasakan. Masih banyak yang merasa tertindas dan terjajah. Yang lebih memilukan lagi, penindasan dan penjajahan seringkali dirasakan dilakukan oleh saudara kita sebangsa...
Keadilan yang seharusnya dirasakan oleh bangsa yang merdeka, rasanya masih sulit didapatkan di republik kita yang tercinta ini. Keadilan menjadi barang mahal yang hanya bisa didapatkan oleh kalangan dengan atribut tertentu.
Kesulitan ekonomi terjadi dimana-mana. Jangankan untuk sekolah, untuk makan saja banyak sekali orang yang kesulitan. Di lain pihak, berita korupsi, rekening liar dan lainnya menjadi santapan sehari2. Tentunya kita mengerti bahwa memang hidup ini penuh dengan masalah. Mengeluhkan kesulitan terjadi salah satunya disebabkan oleh begitu banyaknya ketidakadilan terjadi di negeri ini, bukan semata2 karena manja.
Akhirnya masing-masing individu disibukkan dengan urusannya masing2. Tidak ada lagi waktu yang tersisa bagi negara. Waktu tercurah untuk memenuhi kebutuhan dasar yang harus didapat dengan super ekstra keras. Bahkan dengan kerja "super ekstra" keras pun tidak menjamin kebutuhan terpenuhi. Akhirnya wajarlah kiranya terjadi penurunan antusiasme dari sebagian warga untuk merayakan HUT RI. Karena pada kenyataannya mereka merasa hak2 dasar sebagai warga negara tidak banyak dipengaruhi oleh kemerdekaan. 17 Agustus hanya menjadi acara simbolis tanpa makna. Apakah kemerdekaan memang belum menjadi milik bangsa ini??
Bagi saya justru memang kita sebagai bangsa ini belum merdeka. Belum merdeka dari para koruptor, penjajah dan penindas yang mengaku juga berbangsa Indonesia. Saatnya memerdekakan bangsa. KITA PASTI BISA BUNG. Tapi kita HARUS BERSAMA2. JANGAN ADA LAGI PEMBEDA BERDASARKAN SARA, Hajar semua penjajahan dan penindasan. Apapun bentuknya dan siapapun pelakunya. MERDEKALAH BANGSAKU!!!
Tapi apa yang terjadi sekarang??Beberapa tahun terakhir selalu muncul pesimisme yang mempertanyakan apakah kita sebagai bangsa ini sudah benar2 merdeka???Bahkan untuk tahun ini, beberapa media dan mailing list ramai mendiskusikan mengenai rendahnya tingkat antusiasme rakyat Indonesia dalam menyambut hari kemerdekaan RI.
Mungkin karena makna dan manfaat dari kemerdekaan ini belum sepenuhnya dirasakan. Masih banyak yang merasa tertindas dan terjajah. Yang lebih memilukan lagi, penindasan dan penjajahan seringkali dirasakan dilakukan oleh saudara kita sebangsa...
Keadilan yang seharusnya dirasakan oleh bangsa yang merdeka, rasanya masih sulit didapatkan di republik kita yang tercinta ini. Keadilan menjadi barang mahal yang hanya bisa didapatkan oleh kalangan dengan atribut tertentu.
Kesulitan ekonomi terjadi dimana-mana. Jangankan untuk sekolah, untuk makan saja banyak sekali orang yang kesulitan. Di lain pihak, berita korupsi, rekening liar dan lainnya menjadi santapan sehari2. Tentunya kita mengerti bahwa memang hidup ini penuh dengan masalah. Mengeluhkan kesulitan terjadi salah satunya disebabkan oleh begitu banyaknya ketidakadilan terjadi di negeri ini, bukan semata2 karena manja.
Akhirnya masing-masing individu disibukkan dengan urusannya masing2. Tidak ada lagi waktu yang tersisa bagi negara. Waktu tercurah untuk memenuhi kebutuhan dasar yang harus didapat dengan super ekstra keras. Bahkan dengan kerja "super ekstra" keras pun tidak menjamin kebutuhan terpenuhi. Akhirnya wajarlah kiranya terjadi penurunan antusiasme dari sebagian warga untuk merayakan HUT RI. Karena pada kenyataannya mereka merasa hak2 dasar sebagai warga negara tidak banyak dipengaruhi oleh kemerdekaan. 17 Agustus hanya menjadi acara simbolis tanpa makna. Apakah kemerdekaan memang belum menjadi milik bangsa ini??
Bagi saya justru memang kita sebagai bangsa ini belum merdeka. Belum merdeka dari para koruptor, penjajah dan penindas yang mengaku juga berbangsa Indonesia. Saatnya memerdekakan bangsa. KITA PASTI BISA BUNG. Tapi kita HARUS BERSAMA2. JANGAN ADA LAGI PEMBEDA BERDASARKAN SARA, Hajar semua penjajahan dan penindasan. Apapun bentuknya dan siapapun pelakunya. MERDEKALAH BANGSAKU!!!
Subscribe to:
Posts (Atom)