Saturday, July 17, 2010

Karena kita semua orang penting..

Akhir2 ini banyak yang marah2 soal moge pake vorijder lah, pejabat ke pasar aja pake vorijder lah..Tapi, apa cuma mereka yang seringkali merasa sok penting?? Ayo ah kita jujur sama diri sendiri. Pada dasarnya tidak ada manusia yang tidak senang dianggap penting. Kontrolnya ada di hati nurani untuk menjawab apakah kesenangan untuk dianggap penting merugikan orang lain atau tidak.

Sering sekali menggelengkan kepala selama beberapa kali pulang ke negeri tercinta. Perilaku ingin selalu didahulukan dan diistimewakan dengan apa pun konsekuensinya sudah menjadi virus yang menyebar kemana2. Paling mudah adalah dengan melihat perilaku di jalan yang mengemudi seenaknya. Kalau dulu hanya supir angkot yang bisa ditunjuk dan disalahkan untuk perilaku seenaknya, sekarang pengendara mobil pribadi pun bisa dilihat ga ada bedanya sama supir angkot. (Maaf sopir angkot, ga semua lho ugal2an :)) Udah gitu, pengendara mobil pribadi ini ga terima lagi kalau disamakan dengan sopir angkot. Berhenti dan menyebrang jalan pun semua ingin seenaknya. Kalau perlu, mungkin angkot tuh disuruh berhenti di depan pintu kamar. Temen malah bilang, orang indo itu kalau ke supermarket kalau bisa mobilnya parkir di samping kasir :p. Ada pengalaman pribadi yang unik. Waktu itu di jalan Gatsu bandung dari arah BSM menuju Metro. Sudah mengantri di jalur kanan karena harus belok ke kanan. Tiba2 ada instruksi lucu "bang ka kiri..gancang. bisi telat ieu episode terakhir suatu sinetron lah" (bang, ambil ke kiri..cepat jangan sampai terlambat nonton episode terakhir sebuah sinetron)...Well, waktu itu akhirnya dicemberutin penumpang karena diriku menolak TAPI tak ada penyesalan...hehehe..Tapi coba bayangkan, budaya mengantri buyar karena ingin nonton sinetron!!!

Orang penting ngantri???ga mungkin banget.Budaya antri bisa dikatakan nol besar. Kepentingan seakan2 menjustifikasi segala tindakan.Tapi harus saya ungkapkan satu2nya teladan mengantri yang pernah saya dapatkan. Waktu itu kami berjalan kaki ke suatu jalan untuk naik angkot. Ketika tiba di pinggir jalan, sudah ada beberapa orang menunggu angkot. Nah angkot yang datang tuh cuma menyisakan sedikit tempat duduk. Orang2 berebutan dan berlari. Kebetulan ada satu angkot berhenti dekat kami. Udah siap2 tuh berlari naik ke angkot. Tapi tiba2 bahu dipukul dan dibentak "heh, kamu juga ga mau kan udah nunggu angkot lama terus diserobot?"...teladan yang ga akan pernah terlupakan..

Lanjut soal merasa penting. Banyak orang dalam urusan birokrasi pun memilih membayar untuk mempercepat proses dengan argumen "daripada hilang waktu". Meskipun kita juga harus fair untuk mengakui betapa tidak jelasnya urusan birokrasi di beberapa tempat. Katanya kan "kalau bisa dipersulit, buat apa dipermudah". Tapi, sadarkah ketika kita membayar untuk bisa dipercepat dan dipermudah, di sisi lain ada orang lain yang jadinya diperlambat dan dipersulit karena kita???? Kalau kita tidak bisa memberikan solusi, minimal jangan memperburuk situasi lah. Jangan berikan pembenaran2 lagi untuk semua tindakan yang salah. Biasakan yang benar katanya..bukan benarkan yang biasa!!

Tapi ada juga argumen2 yang menyederhanakan kompleksitas permasalahan yang pernah saya dengar. "Itu mah tergantung amalan, rejeki beda2". Bener juga sih, tapi masa iya kita mau jadi bagian dari bandit2 yang mempersulit orang lain??. Atau ada juga yang bilang "ah orang lain juga begitu, yang lain juga ga tertib, buktinya mereka kemarin gitu dan segala argumen serupa". Lagi2 ciri orang merasa penting, karena cuma orang merasa penting yang selalu ingin diistimewakan. Ingin melihat orang lain dulu yang patuh. Rugi bener kayanya melakukan yang benar. Atau sudah tidak yakinkah kita bahwa melakukan yang benar itu lebih baik???

Dari segi waktu, kita pun jagonya soal merasa penting. Seperti kata Taufik Ismail (kalau ga salah) kalau orang Indonesia itu tepat waktu hanya dalam urusan berbuka puasa hahahaha. Senang kali rasanya kalau bisa bikin orang nunggu tanpa kabar. Kemarin pulang melihat sekumpulan anak muda Indonesia cengar cengir tanpa berdosa meskipun udah bikin temannya menunggu 2 jam tanpa kabar. Coba kalau setiap orang yang kita buat menunggu menuntut kita mengembalikan waktunya??? ada yang bisa bayar???Yang lebih parah adalah mental terjajah digabungkan dengan mental sok penting. Maksudnya kalau janjian sama bule merasa harus tepat waktu, kalau sama bangsa sendiri seenaknya..Tak ada bedanya sama demang jaman kumpeni dulu...semoga kita semua kawan Pitoeng!!!

Merasa senang dianggap penting itu wajar. Tapi sejauh apa tindakan itu bisa dibenarkan? I like Mario Teguh's advice. Katanya, berpeganglah dulu kepada yang BENAR, tindakan yang akan membuat Allah sayang dan tersenyum kepada kita. Tanyakan dulu kepada hati nurani. Soal konsekuensi tindakan kita menjadikan masalah jadi lebih mudah atau sulit sudah bukan urusan kita tho..Yang jelas yakinkan pada diri kita kalau Allah sudah tersenyum kepada kita, semua urusan akan beres... Alm. Ebet Kadarusman selalu bilang memang baik jadi orang penting, tapi lebih penting menjadi orang baik..Let's all remind each other to always try to be a good people.


HF

catatan penting: diriku masih suka melakukan kesalahan2 yang kucontohkan di atas. Ini cuma lagi waras aja bisa menulis kaya gini :P..Next time, kalau aku yang lagi gila ya tolong diingatkan juga sama yang waras ya..

No comments:

Post a Comment